• Website ini telah menyesuaikan dengan "Pedoman Rancangan dan Prinsip Aksesibilitas Website Pengadilan di Lingkungan Mahkamah Agung RI". #Dilmil II-10 Semarang#

Putusan Pengadilan Militer III/12 Surabaya untuk kasus penembakan warga sipil oleh personel TNI Angkatan Laut di Desa Alas Tlogo menegasikan pertanggungjawaban komando.

Kepala Desa Alas Tlogo Imam Supnadi mengatakan, tindakan majelis hakim yang hanya menghukum pelaku lapangan penembakan itu menunjukkan Pengadilan Militer tidak mampu menjangkau tersangka yang menjadi pemberi komando.

"Majelis hakim menghadirkan saksi ahli yang menyatakan penembakan dilakukan sengaja dan langsung diarahkan pada warga sipil. Namun hal itu justru tidak menjadi pertimbangan dalam putusan," kata Imam Supnadi dalam diskusi mengkritisi RUU Peradilan Militer di kantor Kontras Jakarta, Selasa (19/8).

Selain itu Imam Supnadi mengatakan, Pengadilan Militer Surabaya tidak menyediakan penerjemah bagi saksi yang tidak lancar berbahasa Indonesia. Majelis hakim juga dinilai membiarkan penasihat hukum yang kerap membatasi saksi korban untuk memberikan kesaksian.

Anggota Komisi I DPR Andreas Parera yang juga anggota tim perumus RUU Peradilan Militer mengatakan, selama RUU belum selesai, putusan peradilan militer tidak akan sampai pada pemberi komando. "Dalam RUU, kasus seperti ini tidak masuk wilayah peradilan militer. Karena militer hanya berurusan dengan perang. Seharusnya kasus ini masuk peradilan umum."

Berdasarkan fakta di lapangan, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan menemukan adanya pertanggungjawaban komando dalam penembakan warga di Alas Tlogo. Komandan Pusat Latihan Tempur Marinir Grati Mayor Husni Sukarwo dan Komandan Korps Marinir Mayjen Safzen Noerdin seharusnya turut diadili dalam kasus ini. Kontras berharap Komnas HAM melakukan penyelidikan pro justicia.

Sebelumnya dalam rekomendasinya Komnas HAM menyatakan belum menemukan indikasi pelanggaran HAM berat dan sistem komando militer pada kasus penembakan Alas Tlogo. Komnas menyatakan dalam insiden itu terjadi penyerangan dan penembakan serta penyanderaan terhadap warga.

Pada 14 Agustus lalu Pengadilan Militer III/12 Surabaya memvonis 13 personel TNI AL bersalah menyerang dan menembak warga Desa Alas Tlogo pada 31 Mei 2007. Penyerangan itu menewaskan 4 warga dan melukai 8 orang lainnya.

VHRmedia

19 Agustus 2008